Adakah hadits yang menyatakan bahwa dihapusnya amal baik seseorang selama 40tahun yang membicarakan urusan dunia di masjid dan yang bergurau di masjid akan gelap kuburnya?
Jawaban
Nabi pernah mendengar para sahahab bercengkrama dalam masjid tentang perkara dunia yang bukan bagian dari zikir namun beliau membiarkan mereka. Hal ini dibolehkan dan tidak berdosa selagi tidak dalam hal kemaksiatan dan permusuhan.
Dari Sammak bin harb, ia berkata , “aku berkata kepada Jabir bin samurah, ‘apakah anda pernah duduk –duduk bersama Rasulullah?’ ia menjawab: ya. Sering sekali. Beliau tidak pernah meninggalkan tempat Beliau mengerjakan shalat subuh hingga matahari terbit. Jika matahari telah terbit Beliau berdiri, sementara mereka(sahabat Nabi) bercerita tentang perkara-perkara jahiliyyah, saling tertawa dan tersenyum.” [diriwayatkan Muslim]
baca juga: sehari mendapati darah haid
Imam nawawi rahimahullah dalam mensyarahkan hadits ini berkata, “boleh berbicara seputar perkara mubah dan perkara dunia serta lainnya di masjid, walaupun diiringi dengan tawa dan semisalnya selama hal itu mubah. Berdasarkan hadits jabir bin samurah rahimahullah, ia berkata ,dahulu Rasulullah shallallahu a’lahi wasalam tidak beranjak dari tempat shalatnya pada waktu shubuh hingga terbit matahari. Bila matahara telah terbit Beliau beranjak,lalu ia melanjutkan, ‘dan mereka saling bercerita tentang perkara jahiliyyah disertai dengan tawa dan senyum.” Diriwayatkan muslim. (al-Majmu syarh al-Muhazzab)
Ibnu Hazm berkomentar dalam al-Muhalla, “berbicara di masjid seputar perkara yang tidak ada dosa padanya dari perkara dunia adalah mubah. Namun tentunya berzikir pada Allah lebih utama. Dan menyenandungkan syair juga mubah.”
Akan tetapi kebolehan hal tersebut disyaratkan bahwa yang diperbincangkan adalah perkara mubah, tidak mengusik atau mengganggu orang yang sedang shalat misalnya dengan mengeraskan suara. Nabi shallallahu alahi wassalam telah melarang orang yang membaca al-Qur’an saling mengeraskan suara agar tidak mengganggu satu sama lain, maka mengeraskan suara dalamperbincangan seputar perkara dunia dengan suara yang keras tentu lebih pantas dilarang.
Para pengikut madhzab Maliki dan Hambali berpendapat akan makruh hukumnya bercerita perkara dunia di masjid.sedangkan hadits yang anda sebutkan dalam pertanyaan di atas tidak ada sumbernya. Seperti hadits yang artinya berbunyi, “berbicara di masjid akan memakan kebaikan” hadits ini juga tidak ada sumbernya. Wallahu a’lam